Aku adalah laki-laki yang hidup sendirian. Tak punya teman, tak punya pembantu, tidak juga piaraan. Suatu kali ibuku menyuruhku memiara sesuatu, semacam anjing pudel atau kucing anggora. Aku tak mau. Merepotkan pikirku. Sampai suatu ketika si cantik nan liar mengubah keinginanku.
Mulanya aku bimbang, kupungut atau tidak kucing cantik nan liar itu. Tapi apa boleh buat, daripada dipungut orang, meski masih dengan bimbang, aku pungut dia.
Ketika pertamakali kutemukan di belakang rumah, kucing itu sedang mengeong kedinginan. Tubuhnya sedikit kuyup oleh air yang merintik malam itu. Katanya, dia sedang menunggu seseorang yang akan memberinya uang malam ini.
”Siapa namamu?” tanyaku bimbang.
”Apa namaku penting untukmu? Belum pernah aku ditanya soal nama. Semua laki-laki yang menginginkanku hanya memanggilku meong.”
”Jadi namamu meong? Boleh aku memanggilmu cantik?” tanyaku bodoh.
Dia tersenyum tak menjawab. Kulihat tubuhnya menggigil kedinginan.
”Ayo ikut,” kataku. ”Aku punya sedikit daging dan susu hangat untuk mengganjal perutmu,” ujarku spontan karena kupikir dia pasti lapar di tengah gerimis seperti ini.
”Aku tak pernah mau daging dan susu, aku hanya mau uang,” ujarnya ketus.
Aku melihat ada keliaran dari dalam matanya. Keliaran yang tak biasa kulihat pada kebanyakan kucing liar. Keliaran yang mempesonaku.
Malam itu si cantik nan liar ikut denganku. Menemaniku menghabiskan malam yang dingin dan gerimis dengan kehangatan yang tak cuma-cuma. Sejak itulah aku ingin sekali punya piaraan. Lebih spesifik lagi aku inginkan si cantik nan liar menjadi piaraanku.
Tapi kucing cantik nan liar itu pergi sebelum aku bangun pagi. Dia meninggalkanku dalam keadaan aneh yang sepi. Dan kebimbangan merasuk lagi dalam benakku. Baru kali ini aku merasakan sepi setelah sekian lama hidup sendiri. Aku merasa sepi dan kehilangan. Aku kehilangan si cantik nan liar.
**
Malam berikutnya, aku kembali ke belakang rumah. Sebuah jalanan sempit yang gelap, tempat bersarang kucing-kucing liar yang kelaparan. Tujuanku hanya satu, mencari. Sial, dia tak ada.
Malam-malam berikutnya aku masih mencarinya, berharap bertemu kucing cantik nan liar itu lagi. Berpuluh malam berlalu, kucing itu masih tak ada. Aku mulai bosan. Dan bosan adalah penyakit berbahaya. Ketika bosan, otak manusia tiba-tiba saja menjadi sarang prasangka. Tentu saja prasangka buruk. Lalu berjangkitlah prasangka itu ke dalam otakku.
Mungkin, kucing itu telah mati kena penyakit yang ganas. Mengingat dia hidup sangat liar di alam bebas. Mungkin juga, dia telah dipiara orang lain. Sial benar, aku keduluan. Mungkin, dia memang sengaja pergi dari jalanan di belakang rumahku, sengaja menghindariku karena tahu dia kuinginkan. Kucing liar biasanya memang tak betah dipiara.
Sampai pada malam ketiga puluh akhirnya kutemukan kucing cantik nan liar itu. Bukan di jalanan belakang rumahku, melainkan di kantor polisi. Aku sedang kena tilang, kucing cantik nan liar itu sedang berada di sana. Menggigil dan merajuk dengan bahasa yang tak pernah aku mengerti artinya.
”Pak ini kucing saya, boleh saya bawa pulang?” dengan bimbang kutanyakan pada polisi yang menemukannya. Akhirnya kubawa si cantik nan liar pergi, dengan membayar sejumlah uang pada polisi.
Kupandangi wajahnya yang kusut tapi masih juga liar. Dia memang cantik, meski liar. Mungkin karena itulah aku rela mencarinya sampai puluhan malam.
”Kau cantik,” kataku jujur. Bukan pujian, karena aku yakin dia hanya butuh uang, dan bukan bualan.
”Aku lapar,” katanya.
”Hari ini aku tak punya daging dan susu untukmu, kau mau uang?”
”Aku lapar,” ulangnya seperti tak menghiraukanku. Mobil kurapatkan di restoran tempatku biasa makan.
”Kita makan di sini. Makanan di sini relatif lebih enak dibanding yang lain.”
”Kita ke tempat lain saja.”
”Kenapa?”
”Pemilik tempat ini pernah memaksaku untuk memiaraku. Aku bukan piaraan, aku makhluk bebas yang tak akan sudi dipiara demi apapun.”
Tiba-tiba saja aku melihat api dari dalam matanya. Keliaran yang cantik itu berubah menjadi kobaran yang menurutku akan sanggup membakar apa saja yang di dekatnya. Aku semakin bimbang. Takut. Tentu saja aku takut. Takut ketahuan aku juga ingin menjadikannya piaraan.
Urung makan di restoran, akhirnya kubelikan si cantik nan liar makanan cepat saji. Kubawa dia pulang ke rumah. Si cantik nan liar makan sambil terus kupandangi. Tak ada raut kikuk atau risih. Dia hanya makan.
”Makanlah yang banyak. Kau cantik,” si cantik nan liar memandangku dengan letupan di matanya.
”Apa hubungannya makan banyak dan aku yang cantik?”
Seperti tertohok aku tak bisa menjawab, aku memang tak begitu pintar merayu. Aku hanya mengatakan yang perlu. Tak lebih tak kurang.
Selesai makan dia keluar. Pergi meninggalkanku yang kembali terjerembab dalam kesepian yang aneh.
”Terimakasih makanannya, aku harus pergi.”
”Boleh aku antar?”
”Tidak usah,” ujarnya berlalu dan menghilang bersama taksi yang melintas.
Entah apa yang ada dalam benaknya. Mungkin dia memang sudah terbiasa begitu. Terbiasa liar. Bebas tak terkekang.
***
Malam berikutnya, kutemui lagi si cantik nan liar. Dia masih tetap liar. Cantik dan tak peduli. Aku sedikit takut setelah kejadian malam sebelumnya. Tapi dia tak terlihat marah padaku.
”Cantik, aku ingin kau ikut malam ini.”
”Berapa kau berani bayar?”
”Berapapun yang kau minta.”
Aku masih tak percaya. Si cantik nan liar masih mau ikut denganku malam ini. ”Kau tidak marah cantik? Maaf kemarin malam aku membuatmu tersinggung. Malam ini kubayar kau dobel.”
”Apa peduliku. Jika aku mudah tersinggung aku akan kelaparan. Asal kau tak lagi bicara soal memiaraku, aku tak peduli.”
Rasanya dadaku menggembung gembira mendengar kata-katanya. Aku mendapatkan lagi harapan untuk bisa memia…maksudku menjadikannya teman hidupku. Yak! Teman hidup. Rasanya kata-kata itu lebih tepat. Mungkin terdengar lebih halus di telinga. Lebih santun dan romantis, meski sebenarnya tak ada bedanya buatku. Intinya aku ingin dia bersamaku. Tak peduli dia disebut piaraan atau teman hidup.
Aku menemukannya lagi di belakang rumahku. Kali ini si cantik nan liar tak lagi kubawa ke rumah. Kupikir tak ada salahnya jika aku berganti suasana agar bujukanku berhasil. Meskipun aku tahu si cantik nan liar tak akan peduli kuajak kemana. Dia hanya pedulikan uang.
”Bagaimana cantik?”
”Apanya yang bagaimana?”
”Tempat ini, bagus bukan?”
”Lumayan.”
”Kau suka di sini? Ini vilaku yang baru.”
”Aku tak pernah peduli tempat. Lakukan saja yang ingin kau lakukan. Sudah itu bayar aku. Aku dibayar bukan untuk berkata-kata.”
Ucapannya yang ketus semakin menguatkan keinginanku memilikinya. Saat ketus dia menjadi cantik dan liar. Saat ketus dia terlihat bebas. Seakan-akan tak ada yang sanggup mengekangnya. Tidak juga uang.
Malam itu kuceritakan seluruh kesendirian yang selalu merajai hidupku. Sepi yang menjadi teman sejati. Tentu saja dengan tujuan agar si cantik nan liar bersimpati dan kemudian mau kupiara.
Karena tak bisa merayu maka kukatakan: ”Malam itu, ketika pertama kita bertemu, aku menemukanmu di belakang rumahku, kau sedang kedinginan, tubuhmu kuyup dan menggigil. Tapi aku melihat pancaran kehangatan dari kedua bola matamu. Bahkan bukan sekadar hangat, tapi kobaran api. Apa kau tahu itu yang membuatmu istimewa?”
Si cantik nan liar tak menjawab pertanyaanku. Aku sendiri juga sedikit terkejut kenapa aku bisa mengeluarkan kata-kata rayuan seperti itu. Mungkin ini yang disebut sebagai spontanitas. Sesuatu yang eluar begitu saja. Tanpa pretensi, tanpa tendensi. Apa adanya.
”Tapi…”
”Tapi apa?” Si cantik nan liar mulai tertarik dengan kata-kataku. Aku tak yakin bisa spontan lagi. Konon spontanitas hanya terjadi sekali saja. Tak bisa diulangi. Saat spontanitas disadari maka selanjutnya yag keluar adalah bualan kita. Kata penuh pretensi, penuh tendensi.
”Tapi aku merasakan juga kepedihan yang dalam di kedua bola matamu.”
Aku sendiri tak mengerti yang kumaksudkan. Kuharap si cantik nan liar tidak menanyakan apa yang baru kukatakan. Aku pasti tak bisa menjelaskannya.
”Lalu…?”
”Lalu? Apa maksudmu?”
”Masih ada kelanjutannya kan? Kau melihat apalagi di kedua mataku?”
”Kasih.”
Aku semakin membual saja. Terlanjur, kali ini aku harus berhasil mendapatkannya. ”Selama ini aku hidup sendirian saja. Seluruh keluargaku berada jauh di negeri orang. Aku tak punya siapa-siapa di sini. Saat aku melihatmu aku seperti melihat mata ayahku. Dulu ketika kecil aku senang seklai memandangi bola matanya. Penuh kasih.”
Bualanku semakin menjadi. Tentu aja itu bohong. Aku dan ayahku seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur. Mata ayahku selalu terlihat garang dan menyeramkan bukan penuh kasih seperti yang kubilang.
Namanya juga bualan, penuh pretensi dan tendensi. Tapi satu hal yang bukan bualan, bahwa meski garang dan menakutkan, ayahku mengasihiku. Bahwa meski tak pernah akur, aku adalah anak yang paling dibanggakannya.
”Kasih? Kau membual. Apa yang kau inginkan dariku? Aku ini kucing liar. Aku bahkan tak tahu siapa ibuku. Aku terbiasa hidup di jalanan, tak ada yang menyanyangiku, kecuali uang yang diberikan laki-laki yang membawaku setiap malam. Tak ada yang kukasihi kecuali uang mereka juga. Jadi apa yang kau lihat? Kasih semacam itukah?”
***
Aku bingung. Sungguh. Ketahuan juga bahwa aku hanya membual. Aku punya maksud tertentu dengan bualan itu. Pretensi dan tendensiku terbaca jelas oleh si cantik nan liar. Lalu kujawab, ”Bukan. Aku melihat sejuta kasih yang kuyakin sanggup kau beri untuk semua orang. Bahkan tidak demi uang sekalipun. Dan kasih seperti itulah yang selama ini kucari.”
”Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan bertele-tele dan berbelit-belit. Kata-katamu membuat perutku mual.”
”Aku ingin kau menjadi teman hidupku.”
Akhirnya keluar juga kata itu. Setelah melalui liku panjang bualan yang bahkan aku tak yakin akan sanggup membujuk si cantik nan liar.
”Apa maksudmu? Teman hidup?”
”Maukah kau jadi teman hidupku?”
Lalu kulingkarkan sebentuk cincin di jari manisnya. Tak kuduga si cantik nan liar menangis. Untuk pertama kalinya dari kedua bola matanya kulihat airmata. Sejak itu aku sering melihatnya menangis.
Saat kukecup keningnya, seusai bersumpah akan menjaganya seumur hidup di depan altar, dia menangis. Saat seusai melahirkan kucing kecil, dia juga menangis.
Kini, si cantik nan liar, tak lagi liar. Tak sia-sia aku mencarinya puluhan malam. Semua berjalan baik, ternyata punya piaraan tak serumit yang kupikirkan. Sampai suatu malam si cantik nan liar kembali liar. Aku tak tahu sebabnya. Dia berkemas.
”Kau mau kemana?” tanyaku sedih.
”Kau bohong. Ternyata kau hanya menjadikanku piaraan. Kau bahkan tak memberiku kebebasan. Pertemanan selalu saling memberi kebebasan. Ini bukan pertemanan. Kau memiaraku di sini. Aku bukan teman hidupmu, aku piaraanmu.”
”Tapi aku me…”
Dia tak peduli lagi. Dia pergi bersama taksi yang melintas. Meninggalkanku bersama kucing kecil yang mengeong kencang kelaparan minta disusui. Aku tak pernah bertemu dia lagi. Seandainya dia mendengar kelanjutan kata-kataku malam itu aku ingin mengatakan: ”Tapi aku mencintaimu.”
-may-
Sekip, jeda juli 2004
(cerpen ini pernah dipublikasikan di harian Suara Indonesia 2 Februari 2005)