#CeritaKilas1

Alkisah, Cinderela telah berumahtangga dengan sang pangeran. Pangeran Kodok yang tampan. Suatu hari, Cinderela berkata, “Pang, minta uang dong.”

“Buat apa? Beli labu?” tanya Pangeran.

“Bukan, buat ke salon, aku hendak manicure. Itu lho Pang, kegiatan bersih-bersih-cantik kuku dan tangan,” jawab Cinderela.

“Boleh boleh, tapi pulang dari salon jangan tinggalkan kewajibanmu mencuci panci yang pantatnya gosong lho ya. Kemarin kamu kan lupa mematikan kompor, sewaktu menghangatkan kolak pisang. Ingat kita tidak menyewa pembantu rumah tangga. Kan kamu sendiri yang enggan, paranoia, takut para upik abu sewaan itu merebut kedudukanmu.”

Sekian.

Bukan Eleanor Rigby

Kota ini memang bukan Liverpool, tempat Eleanor Rigby* duduk sendiri. Tapi banyak perempuan muda di sini yang hidup sendiri, tak bersama lelaki. Mungkin mereka meniru Eleanor Rigby.

Mungkin, karena kita tidak tahu, apakah Eleanor Rigby merasa senang diciptakan sendirian. Eleanor Rigby tidak bisa kita tanya, ia hanya patung perunggu. Keberadaannya dipersembahkan bagi seluruh orang-orang yang kesepian. The lonely people.

Tapi, Sira bisa kita tanya kenapa dia memilih hidup sendiri, tanpa suami apalagi anak. Tanyalah, dia akan senang menjawab. Meski jawaban itu tak selalu menyenangkan.

“Jadi kenapa Sira?” tanya seorang teman pada sebuah sore. Teman itu sedang berkunjung ke flat tempat tinggalnya. Jumat sore menjelang libur akhir pekan.

“Apanya yang kenapa?” Sira mengaduk seduhan teh hijau, pesanan si teman.

“Ya jadi kenapa kamu memilih hidup sendiri begini. Tidak ingin punya sekadar pacar?”

“Kalau kamu, kenapa suka teh hijau dan bukan kopi?”

“Lho kok malah ganti bertanya?”

“Ya karena jawabannya akan mirip dengan jawaban pertanyaan sebelumnya.”

“Beda dong, soal kopi dan teh itu soal selera minum saja.”

“Ya berarti sama dong, soal pilihan hidup itu soal selera.”

Teman yang bertanya itu senyum. Lantas tidak bertanya lagi. Sira juga senyum, merasa agak geli dan konyol membandingkan pilihan tetap hidup sendiri dengan sekadar selera memilih teh atau kopi.

Tapi ada yang mengganjal dan perlu ditanyakan pada si teman, sebelum teh hijaunya habis diseruput lalu pamit pulang karena sudah dicari si suami.

“Eh tapi sebentar. Sekadar pacar?”

“Iya. Sekadar pacar.”

“Pacar kok sekadar? Maksudnya apa?”

“Ya memang sekadar. Menurutku pacar itu kan sekadar status, sekadar agar tak sendirian, sekadar agar bisa mencurahkan apalah namanya…”

“Nafsu?”

“Bolehlah nafsu. Tapi tak melulu itu. Tempat mencurahkan perasaan, curhat. Pacar itu ya sekadar pendamping. Tak ada konsekwensi apa-apa. Beda dengan suami. Ikatannya banyak.”

“Ini dia yang tidak kumengerti. Rasanya aku tidak perlu sekadar pendamping. Temanku banyak, termasuk kamu.”

“Ya tapi kan aku tidak sering bersama kamu. Dan lagi siapa tahu kamu bosan jalan kemana-mana sendirian. Kalau ada sekadar pendamping kan lumayan ada teman.”

“Pemikiran yang aneh. Kalau begitu aku lebih senang sendiri saja.”

Teman itu senyum lagi. Sebentar lagi dia pasti pulang, ditelepon mantan ‘sekadar’ pacarnya yang telah menikahinya.

“Eh tapi sebelum pulang, aku mau tanya lagi. Berarti Ben, dulu pernah jadi sekadar pacar ya?”

“Ya pernah lah. Ben itu sekadar pacar, dan tetap begitu statusnya sampai dia melamarku, lalu menikahiku.”

Ponsel si teman berdering. Ben, suaminya menelepon. Mobil sudah di depan flat   artinya si teman harus pulang.

****
Ketika Senin datang, mereka kembali bertemu. Di kantor bersama setumpuk pekerjaan. Hanya ada jeda seperti biasa, yaitu ketika makan siang tiba.

Dan seperti biasa juga, mereka makan siang di restoran depan kantor. Pemilik restoran itu sering memutar lagu-lagu zaman dulu. Satu hal yang Sira dan si teman suka.

Seperti sekarang, The Beatles terdengar kencang menyanyi ketika mereka menyantap dua mangkuk soto. All the lonely people. Where do they all come from? All the lonely people. Where do they all belong? Lagu itu, Eleanor Rigby, di telinga Sira seperti sedang menyindirnya.

“Mana ku tahu,” celetuk Sira tiba-tiba.

Si teman bingung, menoleh ke arah Sira, kening bekerut tanda bingung.

“Apanya?”

“Oh itu, aku menyahut Beatles.”

“Maksudnya?”

“Iya itu, Beatles. Ini lagu ini. Ah look at all the lonely people, where do they all come from? Kujawab mana kutahu,” Sira menjelaskan sambil terus menyendok soto.

“Kamu ini aneh, lagu kok dijawab. Dan lagi Beatles kan tidak bertanya padamu.”

“Memang, tapi kan tidak semua orang kesepian itu sendirian. Dan tidak semua orang yang sendirian itu kesepian.”

“Kamu mendebat Beatles?” tanya si teman dengan wajah heran.

“Tidak. Tapi aku benar kan?”

“Bisa iya, bisa tidak.”

“Kenapa begitu?”

“Ya karena ada orang yang sendirian dan benar-benar kesepian, dan ada orang yang hidup bersama lalu tidak merasa kesepian,” ujar si teman sembari menuang sambal ke mangkuk sotonya.

Sira terdiam, termasuk aktivitasnya menyendok soto juga terhenti. Kepalanya penuh tanya. Mengulang pertanyaan Beatles.

“So, where do they all come from?” tanya Sira memandang si teman. Ya, dari mana mereka semua, orang-orang kesepian itu berasal?

“Ya seperti kamu katakan tadi, mana ku tahu?” si teman tersenyum.
Mereka lantas melanjutkan makan siang, kembali ke ruang kantor, bekerja dan pulang ketika sore tiba. Sama-sama tak tahu, dari mana asal semua orang kesepian itu.

Si teman, seperti biasa dijemput Ben, suaminya. Sedangkan Sira, seperti biasa juga pulang sendirian. Tak benar-benar sendiri sebenarnya, karena dalam busway itu dia juga bersama puluhan penumpang lain.

****
Selang sebulan setelah makan siang itu, hidup Sira tak banyak berubah. Bangun pagi di hari Senin hingga Jumat, ke kantor, pulang sore hari, menyiapkan makan malam, membaca novel, nonton TV, lalu tidur. Begitu terus hingga Sabtu dan Minggu tiba.

Akhir pekan, Sira ke toko buku, makan sushi di restoran Jepang, lalu menonton serial Korea romantis. Jika tak sedang enggan duduk dalam gelap di bioskop, Sira ke sana.Memesan tiket lalu menonton film yang disukai.

Tak ada yang aneh tiap akhir pekan tiba. Yang dirasakan aneh justru ketika tiba-tiba ponsel Sira berdering pada Sabtu malam itu. Sebuah nama yang tak asing muncul di layar.

“Halo tumben menelepon malam Minggu begini. Ada apa?”

“Sira…” suara di ujung telepon itu serak isak. “Aku boleh ke rumahmu?”
“Hei ada apa? Kamu menangis? Mau kujemput?” Sira mendadak agak panik mendengar isak di ujung telepon.

“Tidak usah, aku sudah di taksi, sebentar lagi sampai rumahmu.”

“Baiklah, hati-hati.”

Tak lama si penelepon itu tiba. Matanya sembab. Sesaat setelah Sira membuka pintu, dia menghempaskan tubuh ke sofa babut. Meraih remote TV, menekan tombol off. Sira mengerti, di saat sedih dia juga ingin sepi, tanpa suara TV.

“Kubuatkan cokelat hangat, mau?”

Si penelepon itu mengangguk. Airmatanya disusut lagi. Sira mencoba menerka apa yang sedang terjadi. Tak ingin banyak bertanya. Ketika sedih, Sira juga tak suka ditanya-tanya.

“Minumlah dulu agar tenang,” secangkir cokelat hangat disodorkan lantas diseruput pelan. Isaknya mereda. Tak ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Sira diam, matanya menuju layar TV yang mati.

“Ini malam Minggu pertamaku sendirian,” katanya tiba-tiba. Mata Sira menatap wajah dengan mata sembap itu penuh tanya.

“Ben kemana?”

“Tadi pagi Ben pergi. Selanjutnya, aku akan sendiri Sira. Padahal baru sebentar aku dan Ben menikah.”
“Ben…pergi bagaimana?” Sira bingung.

“Ke Perth. Dia memutuskan mengambil jatah sekolah ke Perth yang diberikan kantor. Sebulan ini kami berdebat panjang. Apakah aku perlu ikut atau tidak. Akhirnya dia berangkat sendiri Sira, aku yang mengalah.”

Sira menghembuskan napasnya. Lega. Pikirannya sudah buruk soal mereka. “Oh ke Perth. Kukira…”

“Mau bagaimana lagi. Ben tidak mau aku keluar kerja. Katanya pekerjaanku sudah baik. Dia berjanji tiga bulan sekali pulang.”

“Ben benar. Dan lagi jika kamu ikut bisa jadi malah merepotkannya. Dia kan sekolah di sana.”

“Tapi Sira, dia itu laki-laki, aku takut dia macam-macam.”

“Ben hanya butuh kepercayaanmu. Tak lebih.”

“Kamu kan belum punya suami, jadi tidak mengerti kekhawatiranku.”

“Memang, tapi sekarang ini tak ada yang bisa kamu lakukan selain percaya.”

Mereka terdiam, mata menatap layar TV yang mati. “Sira, malam ini aku tidur di sini ya? Aku kesepian tak ada Ben.”

Sira tersenyum mengangguk. Diraihnya remote TV dan ditekannya tombol on. Benak Sira seketika penuh tanya. Apa iya kalau aku nanti punya suami akan begini jadinya? Sangat tergantung? Sangat kesepian? Sepertinya temanku ini lebih kesepian dibanding aku yang selalu sendirian. Apa benar begitu?

Malam itu hujan turun pelan. Hingga pagi menjelang, mereka terlelap bersebelahan di sebuah ranjang. Tempat Sira selalu tidur sendirian.

~ May Hera ~
Untuk semua perempuan kesepian.

*) Eleanor Rigby adalah patung perunggu berbentuk perempuan berkerudung yang duduk di sendirian di bangku sebuah tepi jalan Kota Liverpool, Inggris. Di sampingnya ada sebuah tas dan burung kecil mematuki roti. Ada plakat bertulis: Dedicated To “All The Lonely People”. Patung ini dibuat oleh Tommy Steele pada 1982. Pembuatan patung terinspirasi oleh lagu The Beatles yang populer pada 1966 berjudul sama. (Sumber: Wikipedia; Jhonlenon.talktalk.org)

Cerita ini pernah dipublikasikan di Majalah Chic edisi September 2012.

Di Rumah Sebelah

Apakah Anda percaya jika saya katakan bahwa manusia itu rentan sekali penasaran, alias ingin tahu tapi agak akut. Ya ingin tahu saja, tidak ada kelanjutannya. Boleh, kan?

Rasa ingin tahu agak akut itulah yang menjangkiti benak saya suatu hari. Suddenly begitu saja. Ketika sedang mengumpulkan kesadaran yang tercerai berai karena tidur, di sebuah siang pada hari libur.

Rasa itu kemudian mendorong saya untuk keluar rumah. Melongok ke luar pagar dan menolehkan kepala ke kanan. Ke arah rumah tetangga yang berdempet dengan rumah saya.

Sebagai single yang hanya mampu membeli rumah di kompleks perumahan bukan mewah, saya tinggal tak berjarak dengan tetangga. Berdempet dengan satu tetangga. Samping kiri taman.

Rumah sebelah sepi-sepi saja. Tapi saya tahu, ada perempuan muda yang baru saja sebulan menikah di rumah itu. Suaminya bekerja sebagai marketing di sebuah bank swasta nasional.

Si suami sudah menjadi tetangga saya setahun terakhir. Dia sibuk, saya menyibukkan diri. Tak pernah benar-benar dekat meski rumah berdempet sekali.

Si istri masih sangat muda, untuk ukuran umur saya yang sudah kepala tiga. Saya taksir usianya baru duapuluhan awal. Mungkin baru lulus kuliah. Tiga pekan lalu saat baru datang, si istri bertamu di sekitar rumah, bermaksud berkenalan.

Namanya Vita. Tiga minggu berselang setelah perkenalan itu, saya nyaris tak pernah bertemu lagi dengannya. Hanya sekali ketika di swalayan depan kompleks. Saya beli kopi, dia belanja banyak sekali.

”Mbak Fika…belanja juga?” celetuknya membuat saya sedikit bingung dan kaget ditambah berpikir agak lama mengingat, siapa dan pernah bertemu dimana. Maklum saya pelupa akut.

”Oh eh hai…ini beli kopi,” kata saya kemudian mendapat giliran membayar lebih dulu di kasir. ”Duluan ya…harus ke kantor nih.”

Dia tersenyum mengangguk. Di perjalanan saya baru bisa ingat dia adalah tetangga sebelah rumah dan bernama Vita. Payah betul saya ini. Mungkin memang perlu periksa otak.

Setelah itu saya sibuk berkutat dengan hidup saya sendiri. Di kompleks ini, saya mungkin termasuk warga yang paling asosial. Jarang bergaul. Terlebih dengan nyonya-nyonya kompleks. Mungkin banyak yang sebaya, tapi kehidupan saya tetap tidak bisa nyambung dengan mereka.

Status saya yang menjadi pembeda. Menjadi single, tanpa suami dan anak, membuat obrolan antara saya dan mereka tak bisa sejalan. Selain juga saya sangat sok sibuk dengan pekerjaan.

Baru ingat lagi soal Vita, ya sekarang ini. Sedang apa ya dia siang-siang begini. Suaminya pasti sedang bekerja. Dia begitu cantik seperti tuan puteri. Selain belanja ke swalayan, apa iya dia sering rumpi sana sini dengan nyonya-nyonya kompleks?

Setahu saya hampir semua nyonya di kompleks ini adalah perempuan pekerja. Arisan nyonya-nyonya kompleks memang ada, tapi itu sebulan sekali. Acara rumpi ringan juga ada tapi itu pagi-pagi sekali, sebelum mereka mandi dan berangkat bekerja bareng suami atau anak-anak ke sekolah.

Ini tengah hari, tak ada acara rumpi. Tak ada agenda arisan. Tuan puteri tentu sendirian. Sama seperti saya sekarang. Tapi saya terbiasa sendiri, sebentar lagi saya juga duduk di depan komputer, mengetik. Sementara dia?

Apa dia juga senang mengetik sesuatu yang tak jelas seperti saya? Menjadi pengkhayal berat di siang bolong mirip saya juga? Atau dia sedang memasak? Menyiapkan candle light dinner untuk si suami?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah ada jawabannya. Tentu saja, saya bertanya pada diri sendiri yang tidak tahu apapun. Jelas tidak ada jawabannya. Saya lantas terusik.

Haruskah saya pura-pura main ke rumah sebelah? Sekadar tersenyum garing dan basa-basi, hai tuan puteri sedang apa siang-siang begini?

Ah konyol sekali. Tapi saya penasaran. Harus apa saya untuk menuntaskannya kecuali main ke sebelah? Melihat langsung si pemicu rasa penasaran itu. Barangkali bisa tuntas lalu saya kembali ke rutinitas, minum kopi sambil mencari inspirasi.

Heran sekali, kenapa bisa penasaran seperti ini. Apa sih pentingnya tahu istri orang sedang apa siang-siang begini? Tak penting sekali. Lantas tiba-tiba sehabis mandi, saya sudah di depan pintu rumah sebelah, tangan kanan memencet bel. Bercelana pendek, dan berkaos oblong bergambar tujuh kurcaci mengelilingi Puteri Salju.

Ah kebetulan sekali, saya juga sedang mendatangi seorang puteri, istri pangeran tetangga sebelah. Apa yang harus saya katakan nanti jika pintu terbuka, selamat siang tuan puteri…hamba penasaran ingin tahu tuan puteri sedang apa?

Tapi bayangan puteri cantik segera lenyap. Menyembul dari balik pintu seorang perempuan bermata sembap. Jelas sekali sehabis menangis. Saya yang terlanjur menyiapkan senyum garing dan basa-basi yang basi, kaget.

“Oh Mbak Fika, ada apa ya?” tanyanya to the point.

“Oh nggak ada apa-apa kok, hanya ingin main. Bolehkan?”

***

Setelah dipersilakan duduk saya nyerocos, basa basi tapi sebenarnya memiliki tujuan pasti, menuntaskan penasaran yang menggelitik sejak tadi.

“Kebetulan hari ini saya libur, ya tidak benar-benar libur sih, masih banyak tulisan juga. Tapi secara hitungan absensi kantor, saya libur.” Ini ngomong apa sih saya juga bingung. Buat apa juga menjelaskan pada tuan puteri bermata sembap ini kalau saya libur, tapi tidak benar-benar libur.

Vita, si tuan puteri bermata sembab itu hanya senyum. Sikapnya yang dingin malah membikin saya kikuk. Membuat basa-basi saya tambah basi. Bingung harus bicara apalagi.

“Saya nggak pernah masuk rumah ini, ini pertamakalinya,” ujar saya makin ngawur. Tapi malah membuat si tuan puteri bersuara.

“Oh ya? Mbak Fika kan sudah bertetangga cukup lama dengan Mas Dwi, kok bisa nggak pernah main ke sini? Sibuk ya?” Saya gantian yang senyum. Tuan puteri sudah berubah mood.

“Ya itu karena kami sama-sama sibuk. Aneh ya? Tapi zaman sekarang model tetanggaan seperti saya dan Mas Dwi itu banyak.”

Obrolan disambung dengan suguhan air dingin, dan keripik kentang. Si tuan puteri lantas bercerita mereka menikah mendadak. Dijodohkan. Di kampung, orangtua mereka bertetangga dekat.

Saya hanya ah oh saja mendengarkan. Lalu membumbui cerita itu dengan mengatakan, tetangga sekitar juga agak kaget, tiba-tiba Dwi pulang kampung di Yogya, lalu ketika kembali sudah membawa istri.

“Yang tidak kaget ya hanya Pak RT dan Bu RT yang dilapori Mas Dwi,” kata saya.

“Saya ini sebenarnya takut mbak. Saya belum terlalu kenal Mas Dwi. Di rumah ini saya juga sepi, tidak punya teman kalau siang. Ingin main ke tetangga juga bingung, banyak yang kerja,” nadanya sedih.

Waduh, saya tambah bingung. “Tapi kan ada internet, kamu bisa browsing. Beli buku, atau majalah. Bisa nonton TV. Saya malah menyangka tadi kamu sedang memasak,” ini dia saatnya mengorek keterangan si tuan puteri sedang apa siang-siang begini.

“Iya sih, saya tadi memang sedang memasak. Tapi saya lantas sedih, ingat ibu di kampung, hanya berdua adik lelaki saya. Saya kangen.”

Waduh, kata saya dalam hati. Bisa-bisa waduh-waduh terus mendengar ceritanya. Seperti penasaran tadi, suddenly saya jatuh kasihan pada Vita. Di kota ini, perempuan seumur Vita masih senang-senangnya bebas.

Saya membandingkan dengan diri sendiri. Ketika lulus kuliah, dan tak langsung bekerja, saya bermain sepuas hati. Belajar lagi banyak hal. Ikut kursus sana-sini. Dan ketika mendapat pekerjaan di dunia yang saya inginkan, saya eksplorasi diri sepuas hati. Toh tak ada yang membebani, semacam anak atau suami.

Ketika melihat Vita, rasa kasihan muncul. Barangkali karena saya berpikir, tak seharusnya dia ‘terjebak’ pernikahan model konvensional begini di usia yang masih dini menurut ukuran saya.

Barangkali ceritanya akan lain, jika Vita memutuskan ingin menikah sendiri. Setidaknya dia lebih siap menghadapi konsekuensi yang dipilihnya. Bukan karena desakan orangtua.

Aneh juga, zaman semodern ini, secanggih ini, masih ada agenda jodoh-jodohan. Saya terus terang, tidak tahu bisa membantu apa. Atas rasa kasihan terhadap Vita, saya hanya bisa diam. Ketika sore turun, saya pamit.

Rasa penasaran saya hilang, berganti dengan kasihan sembari tak tahu apa yang harus saya lakukan untuk bisa membantunya. Saya, selain hari libur begini, hampir tak pernah punya waktu.

Dan setelah hari itu, lama sekali saya tidak pernah lagi berbincang panjang dengan Vita. Hanya say hello ala kadarnya ketika berpapasan. Persis dengan tatacara saya bertetangga selama ini. Kesibukan memang memenjara, bahkan dari sekadar tetangga.

***

Saya tidak ingat, sudah berapa pekan lewat sejak iseng main ke rumah sebelah. Di kompleks ini, kehidupan berjalan baik-baik saja. Setidaknya begitu di mata saya. Mungkin karena saya asosial, tapi semoga memang baik-baik saja seperti kelihatannya. Juga tetangga sebelah yang istrinya kesepian tiap siang hingga hampir malam.

Saya tak pernah mendengar mereka cekcok. Hingga sampailah pada suatu subuh, di hari pertama saya cuti setelah berpekan-pekan terjerat kerja. Saya bertemu Dwi, suami Vita. Wajahnya kusut, matanya merah, sembab.

“Dwi, baru pulang? Tumben. Lembur?” saya basa-basi karena melihatnya memarkir mobil.

“Tidak Fik, dari rumah sakit,” katanya menghampiri saya.

“Siapa yang sakit?” dalam benak saya menebak, pasti istrinya.

“Vita, keguguran,” jawabnya pendek. Lantas malah duduk di teras rumah saya. Bahasa tubuhnya menunjukkan dia ingin berbagi cerita.

“Terus, Vita sama siapa sekarang? Kok malah kamu tinggal pulang?” nada pertanyaan saya khawatir sungguhan, bukan dibuat-buat sekadar berpura-pura simpati.

“Ada ibunya dan ibu saya, semalam datang dari Yogya.”

Subuh itu, saya batal menghirup oksigen segar sambil lari pagi. Saya malah melihat lelaki menangis. Dwi bercerita, Vita sengaja minum jamu untuk mengugurkan kandungannya dan lompat-lompat di kamar mandi rumah mereka.

Vita yang juga pendiam itu tak pernah bercerita, bahwa sebenarnya dia sangat takut menjalani rumah tangga. Ketakutan yang sebenarnya wajar jika bisa dibagi dengan orang lain. Sayangnya orang lain itu tidak ada. Dwi, juga para tetangga sibuk dengan urusan mereka.

Sesaat setelah sadar dari proses kuret, Vita menangis dan mengatakan belum ingin punya anak. Dia masih ingin belajar banyak, meski telah jadi istri.

“Saya tak pernah tahu Fik, dia tak pernah bilang. Saya pikir semuanya baik-baik saja. Dia istri yang baik,” Dwi menghapus setitik airmata dengan jari telunjuknya.

Saya juga kepingin menangis, dan tiba-tiba merasa sangat egois. Selama ini saya hidup sendiri, bersenang-senang sendiri. Sedangkan di rumah yang berdempet dengan tempat tinggal saya, ada perempuan yang butuh teman. Sekadar teman.

Egois sekali saya jadi manusia, hanya berbagi sedikit cerita saja saya tak mampu. Hanya meluangkan 10 menit waktu saja saya tak bisa.

Apakah kerja telah menjadi segala-galanya yang terbaik bagi saya? Saya sungguh kepingin menangis dan merasa ironis. Setelah ini Vita, saya ingin tak sekadar menjadi tetangga, tapi juga sahabat berbagi rasa. Saya janji dalam hati. Siangnya saya sudah semobil bersama Dwi, meluncur ke rumah sakit. Menengok Vita.

-May Hera-

Jogja, Desember 2010

 Cerita ini pernah dipublikasikan di Majalah Chic edisi Februari 2011

Hulu

Saya ingin kembali ke hulu jalan. Sebuah bentang mirip sungai, fatamorgana air mengalir, padahal hanya ada panas aspal menyisir. Fatamorgana muncul karena panas yang tinggi. Mirip bayangan oase di padang menyengat.

Kembali ke hulu jalan, sendirian, pada gelap gerimis bukan hal yang mudah. Saya memang ingin kembali ke hulu jalan itu. Kemudian menentukan arah lagi, bukan pada jalan yang sama.

Sebagian teman bertanya, kenapa harus kembali ke hulu. Tidak bisakah langsung belok saja di salah satu tikungan lain? Atau mengambil jalan ke kanan pada perempatan. Atau mengambil jalan ke kiri pada pertigaan. Kenapa harus kembali ke hulu?

“Jadi kembali ke hulu melalui jalan yang sama? Kembali lagi merunuti seluruh jalan yang sama hanya beda arah? Kembali lagi melihat pohon yang sama, rumah yang sama, toko, bangunan, bekas gudang terbakar, pengemis di emperan toko, lampu jalan yang mati, lubang galian kabel dan lain-lain dan lain-lain?” tanya seorang teman, sembari menyeruput kopi di warung angkringan tepi jalan.

“Ya tidak pada jalan yang sama lah. Tidak serta-merta begitu,” kata saya.

“Lalu?”

“Apa kamu lupa, ini kan jalan satu arah. Artinya saya harus memutar dan kembali ke hulu melewati jalan satunya. Pemandangannya bisa jadi mirip. Sama persis. Tapi bahu jalan jelas berbeda.”

“Ya sama saja Lea.”

“Tidak ah. Tidak sama persis kok.”

“Ya sudah, terserah kamu. Tapi kenapa sih harus kembali ke hulu? Apa tidak sia-sia sudah sejauh ini?”

“Tapi kan saya tidak tahu, di sebelah bahu jalan satunya, ketika kembali itu, ada banyak perubahan.”

“Bukan itu pertanyaannya Lea.”

“Oh iya, kenapa harus kembali ke hulu ya? Apa tidak sia-sia?” Saya malah berbalik menanyai diri sendiri.

Teman itu, hanya geleng-geleng kepala sambil dua kali menyebut nama saya dengan akhiran “A” yang panjang dan rendah. “Leaaaaa….Leaaaaa…”

Keesokan harinya, saya malah bingung. Takut juga kembali ke hulu. Apa harus? Apa iya saya tidak merasa sia-sia kembali ke hulu setelah sejauh ini berjalan? Kalau hanya ingin menentukan arah selanjutnya, saya kan tinggal belok saja di perempatan depan itu. Atau di pertigaan berikutnya. Kenapa harus kembali ke hulu untuk menentukan langkah lagi. Agak aneh juga.

“Dari mana sih ide kembali ke hulu ini berasal?”

“Mana saya tahu,” kata teman saya yang lain. Kami berdua ongkang-ongkang kaki duduk di kursi kayu panjang, trotoar tepi jalan yang ramai lalu lintas. Kursi panjang itu milik penjual lumpia goreng kaki lima.

(Enaknya bersambung gak ya…?)

>> penulisnya agak koplak, tersesat dalam fiksi sendiri 🙂

Si cantik nan liar

Aku adalah laki-laki yang hidup sendirian. Tak punya teman, tak punya pembantu, tidak juga piaraan. Suatu kali ibuku menyuruhku memiara sesuatu, semacam anjing pudel atau kucing anggora. Aku tak mau. Merepotkan pikirku. Sampai suatu ketika si cantik nan liar mengubah keinginanku.

Mulanya aku bimbang, kupungut atau tidak kucing cantik nan liar itu. Tapi apa boleh buat, daripada dipungut orang, meski masih dengan bimbang, aku pungut dia.

Ketika pertamakali kutemukan di belakang rumah, kucing itu sedang mengeong kedinginan. Tubuhnya sedikit kuyup oleh air yang merintik malam itu. Katanya, dia sedang menunggu seseorang yang akan memberinya uang malam ini.

”Siapa namamu?” tanyaku bimbang.

”Apa namaku penting untukmu? Belum pernah aku ditanya soal nama. Semua laki-laki yang menginginkanku hanya memanggilku meong.”

”Jadi namamu meong? Boleh aku memanggilmu cantik?” tanyaku bodoh.

Dia tersenyum tak menjawab. Kulihat tubuhnya menggigil kedinginan.

”Ayo ikut,” kataku. ”Aku punya sedikit daging dan susu hangat untuk mengganjal perutmu,” ujarku spontan karena kupikir dia pasti lapar di tengah gerimis seperti ini.

”Aku tak pernah mau daging dan susu, aku hanya mau uang,” ujarnya ketus.

Aku melihat ada keliaran dari dalam matanya. Keliaran yang tak biasa kulihat pada kebanyakan kucing liar. Keliaran yang mempesonaku.

Malam itu si cantik nan liar ikut denganku. Menemaniku menghabiskan malam yang dingin dan gerimis dengan kehangatan yang tak cuma-cuma. Sejak itulah aku ingin sekali punya piaraan. Lebih spesifik lagi aku inginkan si cantik nan liar menjadi piaraanku.

Tapi kucing cantik nan liar itu pergi sebelum aku bangun pagi. Dia meninggalkanku dalam keadaan aneh yang sepi. Dan kebimbangan merasuk lagi dalam benakku. Baru kali ini aku merasakan sepi setelah sekian lama hidup sendiri. Aku merasa sepi dan kehilangan. Aku kehilangan si cantik nan liar.

**

Malam berikutnya, aku kembali ke belakang rumah. Sebuah jalanan sempit yang gelap, tempat bersarang kucing-kucing liar yang kelaparan. Tujuanku hanya satu, mencari. Sial, dia tak ada.

Malam-malam berikutnya aku masih mencarinya, berharap bertemu kucing cantik nan liar itu lagi. Berpuluh malam berlalu, kucing itu masih tak ada. Aku mulai bosan. Dan bosan adalah penyakit berbahaya. Ketika bosan, otak manusia tiba-tiba saja menjadi sarang prasangka. Tentu saja prasangka buruk. Lalu berjangkitlah prasangka itu ke dalam otakku.

Mungkin, kucing itu telah mati kena penyakit yang ganas. Mengingat dia hidup sangat liar di alam bebas. Mungkin juga, dia telah dipiara orang lain. Sial benar, aku keduluan. Mungkin, dia memang sengaja pergi dari jalanan di belakang rumahku, sengaja menghindariku karena tahu dia kuinginkan. Kucing liar biasanya memang tak betah dipiara.

Sampai pada malam ketiga puluh akhirnya kutemukan kucing cantik nan liar itu. Bukan di jalanan belakang rumahku, melainkan di kantor polisi. Aku sedang kena tilang, kucing cantik nan liar itu sedang berada di sana. Menggigil dan merajuk dengan bahasa yang tak pernah aku mengerti artinya.

”Pak ini kucing saya, boleh saya bawa pulang?” dengan bimbang kutanyakan pada polisi yang menemukannya. Akhirnya kubawa si cantik nan liar pergi, dengan membayar sejumlah uang pada polisi.

Kupandangi wajahnya yang kusut tapi masih juga liar. Dia memang cantik, meski liar. Mungkin karena itulah aku rela mencarinya sampai puluhan malam.

”Kau cantik,” kataku jujur. Bukan pujian, karena aku yakin dia hanya butuh uang, dan bukan bualan.

”Aku lapar,” katanya.

”Hari ini aku tak punya daging dan susu untukmu, kau mau uang?”

”Aku lapar,” ulangnya seperti tak menghiraukanku. Mobil kurapatkan di restoran tempatku biasa makan.

”Kita makan di sini. Makanan di sini relatif lebih enak dibanding yang lain.”

”Kita ke tempat lain saja.”

”Kenapa?”

”Pemilik tempat ini pernah memaksaku untuk memiaraku. Aku bukan piaraan, aku makhluk bebas yang tak akan sudi dipiara demi apapun.”

Tiba-tiba saja aku melihat api dari dalam matanya. Keliaran yang cantik itu berubah menjadi kobaran yang menurutku akan sanggup membakar apa saja yang di dekatnya. Aku semakin bimbang. Takut. Tentu saja aku takut. Takut ketahuan aku juga ingin menjadikannya piaraan.

Urung makan di restoran, akhirnya kubelikan si cantik nan liar makanan cepat saji. Kubawa dia pulang ke rumah. Si cantik nan liar makan sambil terus kupandangi. Tak ada raut kikuk atau risih. Dia hanya makan.

”Makanlah yang banyak. Kau cantik,” si cantik nan liar memandangku dengan letupan di matanya.

”Apa hubungannya makan banyak dan aku yang cantik?”

Seperti tertohok aku tak bisa menjawab, aku memang tak begitu pintar merayu. Aku hanya mengatakan yang perlu. Tak lebih tak kurang.

Selesai makan dia keluar. Pergi meninggalkanku yang kembali terjerembab dalam kesepian yang aneh.

”Terimakasih makanannya, aku harus pergi.”

”Boleh aku antar?”

”Tidak usah,” ujarnya berlalu dan menghilang bersama taksi yang melintas.

Entah apa yang ada dalam benaknya. Mungkin dia memang sudah terbiasa begitu. Terbiasa liar. Bebas tak terkekang.

***

Malam berikutnya, kutemui lagi si cantik nan liar. Dia masih tetap liar. Cantik dan tak peduli. Aku sedikit takut setelah kejadian malam sebelumnya. Tapi dia tak terlihat marah padaku.

”Cantik, aku ingin kau ikut malam ini.”

”Berapa kau berani bayar?”

”Berapapun yang kau minta.”

Aku masih tak percaya. Si cantik nan liar masih mau ikut denganku malam ini. ”Kau tidak marah cantik? Maaf kemarin malam aku membuatmu tersinggung. Malam ini kubayar kau dobel.”

”Apa peduliku. Jika aku mudah tersinggung aku akan kelaparan. Asal kau tak lagi bicara soal memiaraku, aku tak peduli.”

Rasanya dadaku menggembung gembira mendengar kata-katanya. Aku mendapatkan lagi harapan untuk bisa memia…maksudku menjadikannya teman hidupku. Yak! Teman hidup. Rasanya kata-kata itu lebih tepat. Mungkin terdengar lebih halus di telinga. Lebih santun dan romantis, meski sebenarnya tak ada bedanya buatku. Intinya aku ingin dia bersamaku. Tak peduli dia disebut piaraan atau teman hidup.

Aku menemukannya lagi di belakang rumahku. Kali ini si cantik nan liar tak lagi kubawa ke rumah. Kupikir tak ada salahnya jika aku berganti suasana agar bujukanku berhasil. Meskipun aku tahu si cantik nan liar tak akan peduli kuajak kemana. Dia hanya pedulikan uang.

”Bagaimana cantik?”

”Apanya yang bagaimana?”

”Tempat ini, bagus bukan?”

”Lumayan.”

”Kau suka di sini? Ini vilaku yang baru.”

”Aku tak pernah peduli tempat. Lakukan saja yang ingin kau lakukan. Sudah itu bayar aku. Aku dibayar bukan untuk berkata-kata.”

Ucapannya yang ketus semakin menguatkan keinginanku memilikinya. Saat ketus dia menjadi cantik dan liar. Saat ketus dia terlihat bebas. Seakan-akan tak ada yang sanggup mengekangnya. Tidak juga uang.

Malam itu kuceritakan seluruh kesendirian yang selalu merajai hidupku. Sepi yang menjadi teman sejati. Tentu saja dengan tujuan agar si cantik nan liar bersimpati dan kemudian mau kupiara.

Karena tak bisa merayu maka kukatakan: ”Malam itu, ketika pertama kita bertemu, aku menemukanmu di belakang rumahku, kau sedang kedinginan, tubuhmu kuyup dan menggigil. Tapi aku melihat pancaran kehangatan dari kedua bola matamu. Bahkan bukan sekadar hangat, tapi kobaran api. Apa kau tahu itu yang membuatmu istimewa?”

Si cantik nan liar tak menjawab pertanyaanku. Aku sendiri juga sedikit terkejut kenapa aku bisa mengeluarkan kata-kata rayuan seperti itu. Mungkin ini yang disebut sebagai spontanitas. Sesuatu yang eluar begitu saja. Tanpa pretensi, tanpa tendensi. Apa adanya.

”Tapi…”

”Tapi apa?” Si cantik nan liar mulai tertarik dengan kata-kataku. Aku tak yakin bisa spontan lagi. Konon spontanitas hanya terjadi sekali saja. Tak bisa diulangi. Saat spontanitas disadari maka selanjutnya yag keluar adalah bualan kita. Kata penuh pretensi, penuh tendensi.

”Tapi aku merasakan juga kepedihan yang dalam di kedua bola matamu.”

Aku sendiri tak mengerti yang kumaksudkan. Kuharap si cantik nan liar tidak menanyakan apa yang baru kukatakan. Aku pasti tak bisa menjelaskannya.

”Lalu…?”

”Lalu? Apa maksudmu?”

”Masih ada kelanjutannya kan? Kau melihat apalagi di kedua mataku?”

”Kasih.”

Aku semakin membual saja. Terlanjur, kali ini aku harus berhasil mendapatkannya. ”Selama ini aku hidup sendirian saja. Seluruh keluargaku berada jauh di negeri orang. Aku tak punya siapa-siapa di sini. Saat aku melihatmu aku seperti melihat mata ayahku. Dulu ketika kecil aku senang seklai memandangi bola matanya. Penuh kasih.”

Bualanku semakin menjadi. Tentu aja itu bohong. Aku dan ayahku seperti anjing dan kucing. Tak pernah akur. Mata ayahku selalu terlihat garang dan menyeramkan bukan penuh kasih seperti yang kubilang.

Namanya juga bualan, penuh pretensi dan tendensi. Tapi satu hal yang bukan bualan, bahwa meski garang dan menakutkan, ayahku mengasihiku. Bahwa meski tak pernah akur, aku adalah anak yang paling dibanggakannya.

”Kasih? Kau membual. Apa yang kau inginkan dariku? Aku ini kucing liar. Aku bahkan tak tahu siapa ibuku. Aku terbiasa hidup di jalanan, tak ada yang menyanyangiku, kecuali uang yang diberikan laki-laki yang membawaku setiap malam. Tak ada yang kukasihi kecuali uang mereka juga. Jadi apa yang kau lihat? Kasih semacam itukah?”

***

Aku bingung. Sungguh. Ketahuan juga bahwa aku hanya membual. Aku punya maksud tertentu dengan bualan itu. Pretensi dan tendensiku terbaca jelas oleh si cantik nan liar. Lalu kujawab, ”Bukan. Aku melihat sejuta kasih yang kuyakin sanggup kau beri untuk semua orang. Bahkan tidak demi uang sekalipun. Dan kasih seperti itulah yang selama ini kucari.”

”Sebenarnya apa yang kau inginkan? Jangan bertele-tele dan berbelit-belit. Kata-katamu membuat perutku mual.”

”Aku ingin kau menjadi teman hidupku.”

Akhirnya keluar juga kata itu. Setelah melalui liku panjang bualan yang bahkan aku tak yakin akan sanggup membujuk si cantik nan liar.

”Apa maksudmu? Teman hidup?”

”Maukah kau jadi teman hidupku?”

Lalu kulingkarkan sebentuk cincin di jari manisnya. Tak kuduga si cantik nan liar menangis. Untuk pertama kalinya dari kedua bola matanya kulihat airmata. Sejak itu aku sering melihatnya menangis.

Saat kukecup keningnya, seusai bersumpah akan menjaganya seumur hidup di depan altar, dia menangis. Saat seusai melahirkan kucing kecil, dia juga menangis.

Kini, si cantik nan liar, tak lagi liar. Tak sia-sia aku mencarinya puluhan malam. Semua berjalan baik, ternyata punya piaraan tak serumit yang kupikirkan. Sampai suatu malam si cantik nan liar kembali liar. Aku tak tahu sebabnya. Dia berkemas.

”Kau mau kemana?” tanyaku sedih.

”Kau bohong. Ternyata kau hanya menjadikanku piaraan. Kau bahkan tak memberiku kebebasan. Pertemanan selalu saling memberi kebebasan. Ini bukan pertemanan. Kau memiaraku di sini. Aku bukan teman hidupmu, aku piaraanmu.”

”Tapi aku me…”

Dia tak peduli lagi. Dia pergi bersama taksi yang melintas. Meninggalkanku bersama kucing kecil yang mengeong kencang kelaparan minta disusui. Aku tak pernah bertemu dia lagi. Seandainya dia mendengar kelanjutan kata-kataku malam itu aku ingin mengatakan: ”Tapi aku mencintaimu.”

-may-

Sekip, jeda juli 2004

(cerpen ini pernah dipublikasikan di harian Suara Indonesia 2 Februari 2005)