Tukang Salon Banyak Tanya

salon

Pulang kampung lalu ke salon langganan ibu dan bulik-bulik saya adalah sesuatu. Bukan karena murah, tapi karena saking akrabnya. Sesuatu yang seharusnya membahagiakan, malah berujung kurang menyenangkan.

Jika di Jogja, di salon langganan saya –yang adalah milik mantan ibu wali kota– tak ada pertanyaan aneh-aneh kecuali soal perawatan. Di kampung, lain. Salon langganan ibu dan bulik-bulik saya terletak di tepi jalan besar, di kelurahan paling selatan Kota Blitar, berbatasan dengan wilayah kabupaten. Di salon ini, ibu pemilik salon melayani bersama satu asisten. Usianya sama dengan bulik saya. Awal 50-an.

Sebagai salon di kota sangat kecil dan melayani pelanggan di area kecil, si ibu selalu ngobrol ngalor-ngidul dengan pelanggan. Dia, bak buku kamus yang tak pernah absen memperbarui data pergosipan di antara kehidupan pelanggannya. Begini kira-kira yang menimpa saya:

Dia: Lho sampeyan lama sekali gak ke sini, dulu waktu kuliah kecil. Saiki kok luuueeemu (untuk menegaskan saya gendut sekali).
Itu belum nanya saya mau potong, creambath atau mewarnai rambut.

Saya: Lha enggih, lha wong maeme kathah.
Lalu terjadilah tanya jawab soal mau diapakan. Bla bla bla…

Dia: Keramas dulu ya.
Saya: Nggih.
Terjadilah percakapan saat adegan keramas.
Dia: Bulik sampeyan itu balen sama Paklik sampeyan.
Saya: Nggih.
Dia: Kok bulik sampeyan mau ya, kalau saya walah…bla bla bla
Saya: Nyengir kuda.
Dia: Sampeyan putranya berapa?
Sampai pada pertanyaan ini saya sudah harus menyiapkan mental, mengingat lagi si ibu ini tingkat kekepoannya level 9 dari rate 1-10.
Saya: Belum punya.

Keramas krucuk-krucuk, alhamdulillah terjadi dalam diam. Tapi nanti dulu, adegan baru dimulai ketika potong rambut bablas mewarnai.

Dia: Ibuk bapak sehat dek?
Saya: Alhamdulillah sehat.
Dia: Sampeyan kok iso urung nduwe anak dek. Wis usaha apa saja?
Saya nyengir kuda, seraya menjawab seadanya, dan pertanyaan tentang kehidupan pribadi saya memang menjadi panjang. Berkelok-kelok yang saya jawab pendek-pendek, seadanya. Lalu saya memutuskan harus keluar dari lingkaran setan pertanyaan itu.

Saya: Anu, tanah kidul mriku napa badhe dibangun hotel?
Dia: Yang mana dek? Depan Hotel Gita Puri?
Saya: Nggih
Dia: Bukan dek, itu depan pertokoan, belakangnya perumahan. Itu tanah desa, tapi dikapling, dijual. Tumbaso dek, KPR BTN, lumayan buat investasi.
Saya: Ooo saya dengarnya kok mau dibangun hotel.
Dia: Woo lha aku infone dari Bu RW lho dek, wingi dia ke sini. Lha nek dari Bu RW kan ya mesti bener ta.
Saya: Nggih.

Kemudian adegan ngecat rambut.
Dia: Wingi tanggane sampeyan ke sini lho. Aku gak kenal, pendatang baru..
Saya: Nggih kula nggih mboten kenal kok…
Dia: Dia cerita rumahnya dekat masjid kembar
Saya: Mboten kembar jane, niku ming dua masjid, NU dan Muhammadiyah dibangun berhadapan.
Lalu dia ngrasani masjid…
Dia: Lha iyo dek, mbiyen ki jare nganti dijaga polisi. Ya mbingungi kuwi masjide. Yang wakaf sama-sama gak mau ngalah, penginnya dapat pahala dari masjid.
Saya: Nyengir kuda.

Sebelum jauh berganti topik, saya diselamatkan dua hal. Pertama datanglah pelanggan lain, yang menyebabkan dianya berhenti bertanya-tanya, ganti objek penderita. Yang kedua, kami sama-sama mengantuk. Pada sesi kedua pengecatan, jam sudah di angka 9 malam. Dia ke belakang, memarahi anaknya agar belajar. Saya menunggu cat meresap sambil SMS ibu, mengabarkan pulang telat disambung menulis cerita ini.

Di Jogja, saya tidak akan bisa mengecat rambut di salon pada jam 9 malam, harganya murah, disertai pertanyaan investigatif soal kehidupan pribadi. Seraya menghilangkan kantuk, saya mimik Aqua gelas sambil mendengarkan musik dari ponsel.

Sekian,
Blitar, 30 Juli 2017
21.16 WIB

#salon #salonkecantikan #gosip #pergosipan #catrambut #warnarambut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s