when we hate me and you


under the same sky, in the same question, why we hate ourselves? 

we love each other. it was. until I hate myself, you did too. you hate yourself and we have situation: we hate me and you.

when we hate me, you can stay away and reject me. I can’t stay away and reject myself. 

when we hate you, I can stay away and reject you. you can’t stay away and reject yourself.

we end up by hate each other. I hate you. you hate me. we hate ourselves and still living under the same sky. so what kind of world we live in? 

I remember when we love each other. it was. 

~~~
Jogja, December 12, 2016

Pekerjaan Suami Saya #2

Mary Jane Watson memutuskan melahirkan normal sebab katanya operasi caesar lebih lama sembuhnya. Ia tak ingin berlama-lama sakit.

Di atas ranjang ruang bersalin perutnya melilit. Suaminya belum datang. Ia berteriak kencang. “Dokter toloooong, bayiku hendak keluar.”

Dokter cantik yang siap sedia, tenang menghadapi melilitnya perut Mary Jane Watson. Seraya menggulung lengan baju ia bertanya, “ke mana suami Anda?”

“Bekerja..aaaaa…dokter ini sakit rasanya.”

“Memangnya apa pekerjaan suami Anda sampai-sampai tak mendampingi istrinya melahirkan?”

“Superhero dokter…suppppeeeerr hhheeeerooo…aaaaaaa.”

“Oeeeeek…oeeeek.”

Sekian.
Sekip, 9 Februari 2016
01.45 WJO (Waktu JOgja)

Cemburu

kopi latte2

Pada suatu hari yang hujan, saya dan seorang lelaki (sebutlah dia mantan pacar yang sudah jadi teman baik) bertemu dan berbincang. Kafe tak begitu ramai. Dua cangkir coffee latte tak mampu membuat suasana menjadi romantis.

Padahal kalau diperhatikan, suasana cukup “sempurna”. Sebutlah: kafe hangat, musik jazz, berdua, dua cangkir kopi susu kemayu (baca: coffee latte), sofa dan jendela dengan pemandangan hujan di luar sana.

Tapi ini bukan drama Korea! Marilah kita mulai percakapannya, antara dua orang yang dulu pernah (kira-kira kalau tidak lupa), ingin hidup bersama tapi gagal (dan selalu menyalahkan takdir).

“Kamu cemburu gak sama istriku?”

Cemburu? Pertanyaan yang aneh bukan?

“Enggak.”

“Kenapa?”

“Pokoknya enggak.”

“Apa karena istriku jauh lebih muda darimu?”

“Enggak juga.”

“Atau jangan-jangan karena kamu anggap dia enggak selevel?”

“Ya enggaklah, dia sudah jadi ibu, aku belum. Levelnya tinggian dia lah.”

“Lalu? Kenapa kamu tidak cemburu?”

Laki-laki. Kalau sedang jenuh dengan rutinitas memang kadang otaknya “somplak” (untuk tidak mengatakan sinting).

“Kamu mau tahu kenapa aku tidak cemburu sama istrimu?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Pengen tahu saja.”

Saya diam, sebab tiba-tiba dalam kepala saya terputar lagu Ambulans Zigzag-nya Iwan Fals. Lagu yang kalau tidak salah ada lirik begini: “Hai modar aku, hai modar aku….”

“Sebab….”

“Apa?”

“Sebab istrimu tidak kenal Iwan Fals, Dewa 19, atau Sheila on Seven. Yaa mungkin kenal, sebab mereka memang terkenal. Tapi, lagu-lagunya, aku jamin, istrimu tidak akan se-khidmat aku dan kamu (untuk tidak mengatakan kita) ketika mendengarkannya.”

Lelaki yang ngotot ingin tahu kenapa saya tidak cemburu pada istrinya itu, diam. Lalu kata-katanya membuat saya tergelak.

“Iya sih, dan dulu aku sering tidak nyambung ngomongin Iwan Fals, Dewa atau Sheila on Seven sama istriku. Tapi, itu kan cuma musik, apalah artinya. Sekarang aku mendengarkan apa yang dia dengarkan.”

“Lagu apa?”

“Ya Afgan, Fatin, banyaklah.”

“Jadi, itulah sebabnya aku tidak cemburu sama istrimu. Sama sekali tidak. Kenapa? Karena istrimu selamanya tidak akan pernah tahu nikmatnya mendengarkan Ambulans Zigzag, atau Mahameru atau Kita-nya Sheila. Ngapain cemburu, ya kan?”

Oke, ngapain cemburu? Ini soal generation gap. Saya, kemudian membahasnya sendiri dalam kepala saya. Soal jurang generasi alias generation gap (biar kelihatan kerenlah, keminggris).

Saya merasa menikmati masa remaja di era “emas” dengan musik-musik cadas, yang kemudian harus diakui mengiringi saya mengarungi kerasnya hidup (untuk tidak mengatakan takdir).

Musik-musik era 90-an itu tetap gemilang dalam benak saya. Dan begitulah, jika saya bertemu dengan generasi, yang katakanlah, belum remaja ketika era 90-an, maka bisa dipastikan dia adalah generasi selanjutnya.

Kepada generasi setelah 90-an, apa yang harus dicemburui? Saya, begitu lena dan bangga pada era 90-an. Generasi setelahnya tidak bisa mencicipinya. Sebab siapa yang mampu memutar waktu?

Musik bisa diputar, film bisa kembali ditonton, tapi, hujan 90-an beda nikmatnya dengan hujan hari ini, bukan begitu? Dan karena itulah, memang, tak ada yang harus dicemburui.

“Ayo pulang, hujan sudah reda,” kata saya seraya berdiri menuju kasir. Hari ini, saya yang traktir.

Sekip
2 November 2015

Catatan kaki:
Kisah ini tentu saja bukan terjadi baru-baru ini, sebab hujan belum datang hingga sekarang. 🙂

Pekerjaan Suami Saya

Mary Jane Watson datang ke kantor sebuah nightclub, siang hari. Ia wawancara kerja, hendak menjadi penyanyi.

Setelah ditanya-tanya ini itu, si pewawancara bertanya lagi, “suami Mbak Mary pekerjaannya apa?”

Mary Jane mengerutkan kening, tidak penting sekali menanyai pekerjaan suami.

Tapi ia menjawab juga dengan enggan. “Pekerjaan suami saya superhero,” jawab Mary Jane.

Jogja
Sabtu, 28 Desember 2013

Galak yo ben, sing penting bla bla bla

psikologi komunikasi

Teman saya, suatu pagi tiba-tiba memencet bel di pintu flat tempat tinggal saya. Di depan pintu dia berkata, “tadi aku naik kereta, mandi di stasiun, ke sini naik taksi. Ayo kita sarapan di SGPC Bu Wiryo, kamu tidak usah mandi. Kesuwen, aku selak luwe.”

“Baiklah,” kata saya. Cuci muka, lalu makan nasi pecel di SGPC Bu Wiryo, ngobrol sana-sini dengan teman lama yang tampangnya tak berubah sejak zaman kami masih sekolah.

“Kemarin aku baca bukunya Pak Jalal,” katanya.

“Pak Jalal sopo?”

“Jalaludin Rahmat-lah.”

“Sing endi?”

“Sing koyo bukumu kuwi.”

“Psikologi Komunikasi?”

“Ho oh.”

“Terus?”

“Yo rak terus, belok lah, kalau terus nabrak May.” Padakke truk gandeng.

“Maksudku terus kesimpulannya abis kamu baca itu opo?”

Dia tidak menjelaskan kesimpulan bukunya, atau rangkumannya. Tapi dampak setelah membacanya. Katanya, setelah membaca dan merenung, terutama melihat sampulnya bergambar empat ekspresi yang berbeda wajah manusia, dia lantas menjalankan pengamatan.

“Aku sekarang mengamati tampang-tampang manusia lho May, gara-gara bukune Pak Jalal.”

Di dunia ini, berdasarkan pengamatan teman saya itu, manusia bisa dipilah-pilah dari gerak-gerik, perilaku dan tampangnya.

“Tampang ki maksude piye?” tanya saya bodoh.

“Yo tampang, wujude, kemakine, kemayune, galake, pekoke lan liya-liyane.”

“Kok kowe repotmen memilah-milah menungso seko tampange?”

“Hawong iki ekses bar moco buku kok, piye kowe ki.”

Saya tertawa. Lalu dia tiba-tiba berkata yang membuat saya ndomblong.

“Tampang manusia minta ditiduri itu ada lho May, ada, coba amati,”  kata teman saya sambil mak-kriuk, menggigit krupuk. Saya ndomblong sambil mikir keras.

Lalu saya bertanya sambil ber-haaaa?! “Tampang pengen ditiduri ki sing piye?”

Teman saya menjawab, “Susah dijelaskan dengan kata-kata, ini menyangkut pengalaman melihat.” Saya ber-haaa lagi.

“Haaaaaa?!”

Lalu saya takut, jangan-jangan tampang saya?

“Kalok kamu sih gualak May, mana ada yang mau,” teman saya tiba-tiba menyahut. Kampretos.

“Galak yo ben, sing penting….”

Saya tidak melanjutkan, lalu berkata: “ayo muleh, sarapanku bayari yo.”

Dia menyahut: “Yoo…”

@MayHera
-Maret, 2015

#ngunandika1

Catatan kaki:
Gambar yang menyertai tulisan ini adalah sampul buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahkmat, Msc., penerbit Rosda Karya, 2007.

#CeritaKilas1

Alkisah, Cinderela telah berumahtangga dengan sang pangeran. Pangeran Kodok yang tampan. Suatu hari, Cinderela berkata, “Pang, minta uang dong.”

“Buat apa? Beli labu?” tanya Pangeran.

“Bukan, buat ke salon, aku hendak manicure. Itu lho Pang, kegiatan bersih-bersih-cantik kuku dan tangan,” jawab Cinderela.

“Boleh boleh, tapi pulang dari salon jangan tinggalkan kewajibanmu mencuci panci yang pantatnya gosong lho ya. Kemarin kamu kan lupa mematikan kompor, sewaktu menghangatkan kolak pisang. Ingat kita tidak menyewa pembantu rumah tangga. Kan kamu sendiri yang enggan, paranoia, takut para upik abu sewaan itu merebut kedudukanmu.”

Sekian.

Bukan Eleanor Rigby

Kota ini memang bukan Liverpool, tempat Eleanor Rigby* duduk sendiri. Tapi banyak perempuan muda di sini yang hidup sendiri, tak bersama lelaki. Mungkin mereka meniru Eleanor Rigby.

Mungkin, karena kita tidak tahu, apakah Eleanor Rigby merasa senang diciptakan sendirian. Eleanor Rigby tidak bisa kita tanya, ia hanya patung perunggu. Keberadaannya dipersembahkan bagi seluruh orang-orang yang kesepian. The lonely people.

Tapi, Sira bisa kita tanya kenapa dia memilih hidup sendiri, tanpa suami apalagi anak. Tanyalah, dia akan senang menjawab. Meski jawaban itu tak selalu menyenangkan.

“Jadi kenapa Sira?” tanya seorang teman pada sebuah sore. Teman itu sedang berkunjung ke flat tempat tinggalnya. Jumat sore menjelang libur akhir pekan.

“Apanya yang kenapa?” Sira mengaduk seduhan teh hijau, pesanan si teman.

“Ya jadi kenapa kamu memilih hidup sendiri begini. Tidak ingin punya sekadar pacar?”

“Kalau kamu, kenapa suka teh hijau dan bukan kopi?”

“Lho kok malah ganti bertanya?”

“Ya karena jawabannya akan mirip dengan jawaban pertanyaan sebelumnya.”

“Beda dong, soal kopi dan teh itu soal selera minum saja.”

“Ya berarti sama dong, soal pilihan hidup itu soal selera.”

Teman yang bertanya itu senyum. Lantas tidak bertanya lagi. Sira juga senyum, merasa agak geli dan konyol membandingkan pilihan tetap hidup sendiri dengan sekadar selera memilih teh atau kopi.

Tapi ada yang mengganjal dan perlu ditanyakan pada si teman, sebelum teh hijaunya habis diseruput lalu pamit pulang karena sudah dicari si suami.

“Eh tapi sebentar. Sekadar pacar?”

“Iya. Sekadar pacar.”

“Pacar kok sekadar? Maksudnya apa?”

“Ya memang sekadar. Menurutku pacar itu kan sekadar status, sekadar agar tak sendirian, sekadar agar bisa mencurahkan apalah namanya…”

“Nafsu?”

“Bolehlah nafsu. Tapi tak melulu itu. Tempat mencurahkan perasaan, curhat. Pacar itu ya sekadar pendamping. Tak ada konsekwensi apa-apa. Beda dengan suami. Ikatannya banyak.”

“Ini dia yang tidak kumengerti. Rasanya aku tidak perlu sekadar pendamping. Temanku banyak, termasuk kamu.”

“Ya tapi kan aku tidak sering bersama kamu. Dan lagi siapa tahu kamu bosan jalan kemana-mana sendirian. Kalau ada sekadar pendamping kan lumayan ada teman.”

“Pemikiran yang aneh. Kalau begitu aku lebih senang sendiri saja.”

Teman itu senyum lagi. Sebentar lagi dia pasti pulang, ditelepon mantan ‘sekadar’ pacarnya yang telah menikahinya.

“Eh tapi sebelum pulang, aku mau tanya lagi. Berarti Ben, dulu pernah jadi sekadar pacar ya?”

“Ya pernah lah. Ben itu sekadar pacar, dan tetap begitu statusnya sampai dia melamarku, lalu menikahiku.”

Ponsel si teman berdering. Ben, suaminya menelepon. Mobil sudah di depan flat   artinya si teman harus pulang.

****
Ketika Senin datang, mereka kembali bertemu. Di kantor bersama setumpuk pekerjaan. Hanya ada jeda seperti biasa, yaitu ketika makan siang tiba.

Dan seperti biasa juga, mereka makan siang di restoran depan kantor. Pemilik restoran itu sering memutar lagu-lagu zaman dulu. Satu hal yang Sira dan si teman suka.

Seperti sekarang, The Beatles terdengar kencang menyanyi ketika mereka menyantap dua mangkuk soto. All the lonely people. Where do they all come from? All the lonely people. Where do they all belong? Lagu itu, Eleanor Rigby, di telinga Sira seperti sedang menyindirnya.

“Mana ku tahu,” celetuk Sira tiba-tiba.

Si teman bingung, menoleh ke arah Sira, kening bekerut tanda bingung.

“Apanya?”

“Oh itu, aku menyahut Beatles.”

“Maksudnya?”

“Iya itu, Beatles. Ini lagu ini. Ah look at all the lonely people, where do they all come from? Kujawab mana kutahu,” Sira menjelaskan sambil terus menyendok soto.

“Kamu ini aneh, lagu kok dijawab. Dan lagi Beatles kan tidak bertanya padamu.”

“Memang, tapi kan tidak semua orang kesepian itu sendirian. Dan tidak semua orang yang sendirian itu kesepian.”

“Kamu mendebat Beatles?” tanya si teman dengan wajah heran.

“Tidak. Tapi aku benar kan?”

“Bisa iya, bisa tidak.”

“Kenapa begitu?”

“Ya karena ada orang yang sendirian dan benar-benar kesepian, dan ada orang yang hidup bersama lalu tidak merasa kesepian,” ujar si teman sembari menuang sambal ke mangkuk sotonya.

Sira terdiam, termasuk aktivitasnya menyendok soto juga terhenti. Kepalanya penuh tanya. Mengulang pertanyaan Beatles.

“So, where do they all come from?” tanya Sira memandang si teman. Ya, dari mana mereka semua, orang-orang kesepian itu berasal?

“Ya seperti kamu katakan tadi, mana ku tahu?” si teman tersenyum.
Mereka lantas melanjutkan makan siang, kembali ke ruang kantor, bekerja dan pulang ketika sore tiba. Sama-sama tak tahu, dari mana asal semua orang kesepian itu.

Si teman, seperti biasa dijemput Ben, suaminya. Sedangkan Sira, seperti biasa juga pulang sendirian. Tak benar-benar sendiri sebenarnya, karena dalam busway itu dia juga bersama puluhan penumpang lain.

****
Selang sebulan setelah makan siang itu, hidup Sira tak banyak berubah. Bangun pagi di hari Senin hingga Jumat, ke kantor, pulang sore hari, menyiapkan makan malam, membaca novel, nonton TV, lalu tidur. Begitu terus hingga Sabtu dan Minggu tiba.

Akhir pekan, Sira ke toko buku, makan sushi di restoran Jepang, lalu menonton serial Korea romantis. Jika tak sedang enggan duduk dalam gelap di bioskop, Sira ke sana.Memesan tiket lalu menonton film yang disukai.

Tak ada yang aneh tiap akhir pekan tiba. Yang dirasakan aneh justru ketika tiba-tiba ponsel Sira berdering pada Sabtu malam itu. Sebuah nama yang tak asing muncul di layar.

“Halo tumben menelepon malam Minggu begini. Ada apa?”

“Sira…” suara di ujung telepon itu serak isak. “Aku boleh ke rumahmu?”
“Hei ada apa? Kamu menangis? Mau kujemput?” Sira mendadak agak panik mendengar isak di ujung telepon.

“Tidak usah, aku sudah di taksi, sebentar lagi sampai rumahmu.”

“Baiklah, hati-hati.”

Tak lama si penelepon itu tiba. Matanya sembab. Sesaat setelah Sira membuka pintu, dia menghempaskan tubuh ke sofa babut. Meraih remote TV, menekan tombol off. Sira mengerti, di saat sedih dia juga ingin sepi, tanpa suara TV.

“Kubuatkan cokelat hangat, mau?”

Si penelepon itu mengangguk. Airmatanya disusut lagi. Sira mencoba menerka apa yang sedang terjadi. Tak ingin banyak bertanya. Ketika sedih, Sira juga tak suka ditanya-tanya.

“Minumlah dulu agar tenang,” secangkir cokelat hangat disodorkan lantas diseruput pelan. Isaknya mereda. Tak ada kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Sira diam, matanya menuju layar TV yang mati.

“Ini malam Minggu pertamaku sendirian,” katanya tiba-tiba. Mata Sira menatap wajah dengan mata sembap itu penuh tanya.

“Ben kemana?”

“Tadi pagi Ben pergi. Selanjutnya, aku akan sendiri Sira. Padahal baru sebentar aku dan Ben menikah.”
“Ben…pergi bagaimana?” Sira bingung.

“Ke Perth. Dia memutuskan mengambil jatah sekolah ke Perth yang diberikan kantor. Sebulan ini kami berdebat panjang. Apakah aku perlu ikut atau tidak. Akhirnya dia berangkat sendiri Sira, aku yang mengalah.”

Sira menghembuskan napasnya. Lega. Pikirannya sudah buruk soal mereka. “Oh ke Perth. Kukira…”

“Mau bagaimana lagi. Ben tidak mau aku keluar kerja. Katanya pekerjaanku sudah baik. Dia berjanji tiga bulan sekali pulang.”

“Ben benar. Dan lagi jika kamu ikut bisa jadi malah merepotkannya. Dia kan sekolah di sana.”

“Tapi Sira, dia itu laki-laki, aku takut dia macam-macam.”

“Ben hanya butuh kepercayaanmu. Tak lebih.”

“Kamu kan belum punya suami, jadi tidak mengerti kekhawatiranku.”

“Memang, tapi sekarang ini tak ada yang bisa kamu lakukan selain percaya.”

Mereka terdiam, mata menatap layar TV yang mati. “Sira, malam ini aku tidur di sini ya? Aku kesepian tak ada Ben.”

Sira tersenyum mengangguk. Diraihnya remote TV dan ditekannya tombol on. Benak Sira seketika penuh tanya. Apa iya kalau aku nanti punya suami akan begini jadinya? Sangat tergantung? Sangat kesepian? Sepertinya temanku ini lebih kesepian dibanding aku yang selalu sendirian. Apa benar begitu?

Malam itu hujan turun pelan. Hingga pagi menjelang, mereka terlelap bersebelahan di sebuah ranjang. Tempat Sira selalu tidur sendirian.

~ May Hera ~
Untuk semua perempuan kesepian.

*) Eleanor Rigby adalah patung perunggu berbentuk perempuan berkerudung yang duduk di sendirian di bangku sebuah tepi jalan Kota Liverpool, Inggris. Di sampingnya ada sebuah tas dan burung kecil mematuki roti. Ada plakat bertulis: Dedicated To “All The Lonely People”. Patung ini dibuat oleh Tommy Steele pada 1982. Pembuatan patung terinspirasi oleh lagu The Beatles yang populer pada 1966 berjudul sama. (Sumber: Wikipedia; Jhonlenon.talktalk.org)

Cerita ini pernah dipublikasikan di Majalah Chic edisi September 2012.