Galak yo ben, sing penting bla bla bla

psikologi komunikasi

Teman saya, suatu pagi tiba-tiba memencet bel di pintu flat tempat tinggal saya. Di depan pintu dia berkata, “tadi aku naik kereta, mandi di stasiun, ke sini naik taksi. Ayo kita sarapan di SGPC Bu Wiryo, kamu tidak usah mandi. Kesuwen, aku selak luwe.”

“Baiklah,” kata saya. Cuci muka, lalu makan nasi pecel di SGPC Bu Wiryo, ngobrol sana-sini dengan teman lama yang tampangnya tak berubah sejak zaman kami masih sekolah.

“Kemarin aku baca bukunya Pak Jalal,” katanya.

“Pak Jalal sopo?”

“Jalaludin Rahmat-lah.”

“Sing endi?”

“Sing koyo bukumu kuwi.”

“Psikologi Komunikasi?”

“Ho oh.”

“Terus?”

“Yo rak terus, belok lah, kalau terus nabrak May.” Padakke truk gandeng.

“Maksudku terus kesimpulannya abis kamu baca itu opo?”

Dia tidak menjelaskan kesimpulan bukunya, atau rangkumannya. Tapi dampak setelah membacanya. Katanya, setelah membaca dan merenung, terutama melihat sampulnya bergambar empat ekspresi yang berbeda wajah manusia, dia lantas menjalankan pengamatan.

“Aku sekarang mengamati tampang-tampang manusia lho May, gara-gara bukune Pak Jalal.”

Di dunia ini, berdasarkan pengamatan teman saya itu, manusia bisa dipilah-pilah dari gerak-gerik, perilaku dan tampangnya.

“Tampang ki maksude piye?” tanya saya bodoh.

“Yo tampang, wujude, kemakine, kemayune, galake, pekoke lan liya-liyane.”

“Kok kowe repotmen memilah-milah menungso seko tampange?”

“Hawong iki ekses bar moco buku kok, piye kowe ki.”

Saya tertawa. Lalu dia tiba-tiba berkata yang membuat saya ndomblong.

“Tampang manusia minta ditiduri itu ada lho May, ada, coba amati,”  kata teman saya sambil mak-kriuk, menggigit krupuk. Saya ndomblong sambil mikir keras.

Lalu saya bertanya sambil ber-haaaa?! “Tampang pengen ditiduri ki sing piye?”

Teman saya menjawab, “Susah dijelaskan dengan kata-kata, ini menyangkut pengalaman melihat.” Saya ber-haaa lagi.

“Haaaaaa?!”

Lalu saya takut, jangan-jangan tampang saya?

“Kalok kamu sih gualak May, mana ada yang mau,” teman saya tiba-tiba menyahut. Kampretos.

“Galak yo ben, sing penting….”

Saya tidak melanjutkan, lalu berkata: “ayo muleh, sarapanku bayari yo.”

Dia menyahut: “Yoo…”

@MayHera
-Maret, 2015

#ngunandika1

Catatan kaki:
Gambar yang menyertai tulisan ini adalah sampul buku Psikologi Komunikasi, karangan Drs. Jalaluddin Rahkmat, Msc., penerbit Rosda Karya, 2007.