Bukan Sup Ayam

Part 1

Kue-kue dalam kotak

SETELAH terjungkal dari sebuah perceraian yang menyakitkan, dua setengah tahun lalu, saya sebenarnya tidak tahu harus apa. Tidak tahu harus bagaimana melanjutkan hidup. Bahkan tidak tahu apakah saya masih penting ada di dunia ini.

Saya tetap masuk kerja, karena hanya itu – sepertinya – yang saya punya. Bulan-bulan pertama sungguh berat. Adik perempuan saya sangat khawatir saya akan bunuh diri (belakangan dia baru cerita). Tapi, memang saat itu ide itu menguasai pikiran saya.

Awalnya, saya pendam semua sendiri. Tak seorangpun teman kantor tahu (pikir saya buat apa, ini masalah pribadi). Di tengah deadline ketat saya harus konsentrasi sambil depresi. Sangat tidak mudah. Saya menangis dua kali sehari di kamar mandi kantor.

Setiap selesai editing satu halaman, saya ke kamar mandi sesenggukan. Pergi ke wastafel mencuci muka. Tak ada bahu untuk menghambur, tak ada pangkuan ibu untuk mengadu. (ih lebay)

Suatu ketika, di hari yang sungguh berat, saya memutuskan tak masuk kerja. Saya berdiam diri di kamar. Tidak menangis, tidak tertawa, tidak bisa memikirkan apa-apa. Obat tidur yang saya telan sepertinya tak memberikan pengaruh apapun. Semalaman saya memandang langit-langit kamar yang temaram. Tidak makan. (eh tapi saya minum lho)

Sebelum hari itu, saya telah bercerita kepada seorang teman kantor, yang saya anggap dekat. Tak ada siapapun yang bisa dipercaya kecuali dia. Saya pikir tak banyak orang yang tahu itu lebih baik. Belakangan saya menyadari itu keliru besar.

Sampai sore hari berikutnya, tiba-tiba teman-teman saya datang ke flat tempat saya tinggal. Mereka datang membawa dua kotak besar kue. Di depan mereka akhirnya saya menangis. Saya dipeluk. Saya didengarkan. Saya dimengerti. Saya akhirnya ‘menghambur’ ke bahu-bahu mereka. Ketika pamit pulang, mereka mengusap kepala saya.

Hari itu, saya lalu tahu, saya bisa melanjutkan hidup. Saya lalu yakin, saya bisa terus melangkah. Saya tiba-tiba mengerti saya masih bisa berdiri.Setelah mereka pulang, saya memang masih menangis. Tapi saya bisa berpikir lagi.

Lucunya, setelah hampir 24 jam saya tidak makan apa-apa, kue-kue itulah yang saya makan hingga tengah malam. Saya menangis sambil memakan kue-kue dalam kotak itu.(ih dasar tukang makan)

Dua hari kemudian saya kembali bekerja. Dan juga masih sesekali menangis di kamar mandi kantor. Hingga kamar mandi itu akhirnya disulap menjadi ruang tempat server. Hari itu juga saya berhenti menangis di sana.(lucu ya)

Berikutnya, teman-teman saya itulah yang membantu saya pulih. Menghilangkan sama sekali ide ‘lenyap dari dunia’. Tak berapa lama kemudian saya tiba-tiba dipindahkan dari mengerjakan print media ke online media.

Sebuah keputusan dari atasan saya yang sampai hari ini, berjuta terima kasih harus saya ucapkan, dan mungkin tak pernah cukup. Keputusan itu memulihkan saya. Depresi saya pada pekerjaan otomatis turun. Saya pulih pelan-pelan.

JOGJA, 4 Juni 2011
Dini hari, 02.02 WIB

BERSAMBUNG YA…
(ah hidup ini kan memang masih bersambung terus)

Cerita ini bukan sup ayam untuk jiwa atau dalam bahasa Inggris, Chicken Soup for The Soul (buku yang belakangan sering saya baca). Saya hanya ingin berbagi dan berterima kasih tak terhingga pada teman-teman, adik, serta budhe yang menemani sepanjang memulihkan jiwa. (Post Script: Saya tinggal di kota terpisah dari kedua orangtua.)

  1. No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.