Posted by: May Hera on: November 27, 2010
Saya ingin kembali ke hulu jalan. Sebuah bentang mirip sungai, fatamorgana air mengalir, padahal hanya ada panas aspal menyisir. Fatamorgana muncul karena panas yang tinggi. Mirip bayangan oase di padang menyengat.
Kembali ke hulu jalan, sendirian, pada gelap gerimis bukan hal yang mudah. Saya memang ingin kembali ke hulu jalan itu. Kemudian menentukan arah lagi, bukan pada jalan yang sama.
Sebagian teman bertanya, kenapa harus kembali ke hulu. Tidak bisakah langsung belok saja di salah satu tikungan lain? Atau mengambil jalan ke kanan pada perempatan. Atau mengambil jalan ke kiri pada pertigaan. Kenapa harus kembali ke hulu?
“Jadi kembali ke hulu melalui jalan yang sama? Kembali lagi merunuti seluruh jalan yang sama hanya beda arah? Kembali lagi melihat pohon yang sama, rumah yang sama, toko, bangunan, bekas gudang terbakar, pengemis di emperan toko, lampu jalan yang mati, lubang galian kabel dan lain-lain dan lain-lain?” tanya seorang teman, sembari menyeruput kopi di warung angkringan tepi jalan.
“Ya tidak pada jalan yang sama lah. Tidak serta-merta begitu,” kata saya.
“Lalu?”
“Apa kamu lupa, ini kan jalan satu arah. Artinya saya harus memutar dan kembali ke hulu melewati jalan satunya. Pemandangannya bisa jadi mirip. Sama persis. Tapi bahu jalan jelas berbeda.”
“Ya sama saja Lea.”
“Tidak ah. Tidak sama persis kok.”
“Ya sudah, terserah kamu. Tapi kenapa sih harus kembali ke hulu? Apa tidak sia-sia sudah sejauh ini?”
“Tapi kan saya tidak tahu, di sebelah bahu jalan satunya, ketika kembali itu, ada banyak perubahan.”
“Bukan itu pertanyaannya Lea.”
“Oh iya, kenapa harus kembali ke hulu ya? Apa tidak sia-sia?” Saya malah berbalik menanyai diri sendiri.
Teman itu, hanya geleng-geleng kepala sambil dua kali menyebut nama saya dengan akhiran “A” yang panjang dan rendah. “Leaaaaa….Leaaaaa…”
Keesokan harinya, saya malah bingung. Takut juga kembali ke hulu. Apa harus? Apa iya saya tidak merasa sia-sia kembali ke hulu setelah sejauh ini berjalan? Kalau hanya ingin menentukan arah selanjutnya, saya kan tinggal belok saja di perempatan depan itu. Atau di pertigaan berikutnya. Kenapa harus kembali ke hulu untuk menentukan langkah lagi. Agak aneh juga.
“Dari mana sih ide kembali ke hulu ini berasal?”
“Mana saya tahu,” kata teman saya yang lain. Kami berdua ongkang-ongkang kaki duduk di kursi kayu panjang, trotoar tepi jalan yang ramai lalu lintas. Kursi panjang itu milik penjual lumpia goreng kaki lima.
(Enaknya bersambung gak ya…?)
>> penulisnya agak koplak, tersesat dalam fiksi sendiri
Halow mbak cantik, meskipun menentukan arah lagi bukan pada jalan yang sama tapi akan tetap menemukan banyak tikungan2 dan itu jelas pasti. Kemana pun arah dituju yang penting ada keinginan kuat untuk tetap berjalan meskipun jalan itu tak mungkin dilewati.
November 27, 2010 at 2:34 pm
ah… harus menunggu lagi.
re serius kayane kih le nge-blog
November 27, 2010 at 2:37 pm
oh yeah \m/